“…Kini bagai malam tanpa cahaya bulan dan cerianya bintang. Hatiku menjerit. Tiap hari ku mengabdi. Di pagi buta harus bangun dan siap melayani tuanku. Hingga tengah malam baru bisa menarik napas lega. …. Jika aku berontak pasti bencana akan menimpaku. Tuanku pasti marah, memukulku. Dan disiksa tanpa ada yang membantuku. Karena aku hanya seorang babu. Aku tak berdaya. Pasrah agar tak dipulangkan.”
Saat ini, seratus tahun lebih semenjak meninggalnya Kartini, apa yang tersisa dari jejaknya? Lihatlah perayaannya, hari Kartini kerap diidentikkan dengan sanggul, kain, dan kebaya, serta lomba masak memasak. Siapakah lagi yang akan mengingatnya sebagai seorang perempuan dengan pemikiran yang cerdas? Ke manakah suaranya menggema menuntut perubahan nasib perempuan?
Sebuah berita surat khabar pagi itu melaporkan, Muhamad Fadli Bukhori, balita berusia dua bulan, yang sudah sekian lama terbaring sakit karena gizi buruk akhirnya meninggal dunia di rumah sakit Bekasi. Kasus bocah terkena gizi buruk itu bukan yang pertama kalinya di negeri ini, khususnya di kota Bekasi.
Sekalipun begitu, pemerintah masih terkesan menghindar dengan menyebut bahwa bocah tersebut tidak terkena gizi buruk melainkan kurang gizi. Ada juga diagnosa yang mengatakan bahwa Fadli hanya terkena infeksi paru-paru. Lepas dari lempar melempar fakta, nyatanya ratusan balita di kabupaten Bekasi berat badannya …