Dari Dekat Kehidupan Sales Promotion Girls (SPG) – RJP 499
Perempuan ‘dianggap’ memiliki daya tarik tersendiri dalam dunia bisnis terutama pada aspek sales atau penjualan dan marketing atau pemasaran. Karena faktor tersebutlah keberadaan Sales Promotion Girls atau perempuan yang bekerja sebagai penjual produk, yang lebih dikenal dengan istilah SPG, dibutuhkan. Selain dituntut untuk menguasai materi produk, oleh perusahaan mereka pun dituntut untuk berpenampilan semenarik mungkin. Namun bagaimana bila kadar tuntutan tersebut justru mengeksploitasi hak-hak SPG sebagai perempuan?
Kali ini, saya Dea Pranathania mengajak anda untuk membuka sisi lain kehidupan perempuan yang berprofesi sebagai SPG yang selama ini kerap tersembunyi dibalik penampilan dan produk yang mereka promosikan. Berikut penuturan dua orang SPG, Aline dan Irene












1. Perlu diterapkan dalam undang2 bahwa setiap tenaga kerja tanpa perjanjian atau kontrak adalah pelanggaran pidana.
Sehingga tenaga kerja memiliki kekuatan untuk melawan.
2. Setiap perjanjian/kontrak tenaga kerja harus mengikuti UU ketenaga kerjaan.
3. Beresin oknum2 disnaker yang tidak punya kerjaan atau hanya mau kerja kalo ada masalah yang berbau duit. Karena tenaga kerja hanya berhak mengadukan masalah mereka ke disnaker walau mereka di tipu.
saya sangat apresiasi sekali dgn diangkatnya Tema ttg dunia realitas pekerja SPG karena selama ini kehidupan pekerja SPG selama ini mereka hanya di pandang sebelah mata oleh perusahaan, hal ini dpt terlihat dr sisi ekonomi dlam hal pemberian upah kepada pekerja SPG —yg bs disamakan sebagai BURUH- yang masih ada di bawah standar UMR bahkan beberapa perusahaan tidak membayarkan tunjangan kesehatan bagi para pekerja tersebut, bahkan dilihat dr pekerjaan yg harus mereka lakukan pun hampir sama dgn pekerjaan kasar, misal mereka harus mengangkat dan memindahkan barang yg berat dr gudang ke gondola-tdk jarang ada yang terjatuh saat harus mengambil barang yg berat dr gudang. jam kerja yang tdik manusiawi,hal ini tdika jarang para pekerja SPG harus pulang sampai jam 10 malam — tutup toka– dan mereka tidak difasilitasi dengan kendaraan operasional antar jemput jk mereka pulang malam seperti yg dilakukan o/ perusahaan lain yg cukup menghargai keberadaan karyawannyan.
Selama ini SPG jadi ujung tombak, tapi justru yang paling sering dilupakan pemenuhan hak – haknya.
Leave your response!
Video YJP
Kategori
Kampanye
Arsip
Jaringan
jurnal perempuan
Rating Tertinggi
Most Commented
Most Viewed