Testimoni Warga Ahmadiyah – RJP 445
Hari itu, Senin, 28 April dini hari, desa Parakan, kecamatan Salak, Sukabumi Jawa Barat masih diliputi sunyi. Tiba-tiba serombongan massa yang tak dikenal datang. Mereka mendatangi sebuah masjid yang terletak di tengah kompleks warga Ahmadiyah dan kemudian membakarnya. Begitu pun, sebuah madrasah diporakporandakan hingga pecah kaca dan jendela. Suasana desa Parakan pun berubah mencekam.
Tidak ada teriakan minta tolong atau kesibukan memadamkan api. Nyala api dibiarkan terus membubung tinggi hingga menghanguskan seluruh bangunan masjid Al-Furqon. Sementara di sudut-sudut rumah warga, ketakutan membayang di wajah-wajah jemaat Ahmadiyah, perempuan, laki-laki, anak-anak maupun dewasa. Mereka tak kuasa melawan. Dan masjid yang dibangun itupun hancur sia-sia. Kejadian di Parakan bukanlah yang pertamakalinya menimpa warga Ahmadiyah.
Tahun 2007 kemarin, sebuah masjid jemaat Ahmadiyah di Kuningan dan Majalengka, Jawa Barat juga dibakar massa, tanpa perlawanan. Begitu juga masjid dan rumah para pengikut Ahmadiyah di Bogor dan Lombok, Nusa Tenggara Barat, dirusak. Jemaat Ahmadiyah dianggap sesat, dan oleh karena itu pantas untuk mendapatkan kekerasan. Tapi, pernahkan kita sebentar saja turut merasakan, bagaimana ketakutan dan traumanya anak-anak melihat aksi-aksi perusakan itu, dan bagaimana para perempuan juga merasakan hal yang sama tanpa bisa berbuat apa-apa. Awal bulan Mei kemarin, melalui konferensi pers yang diadakan di kantor Yayasan Jurnal Perempuan di Jakarta Selatan, para perempuan Ahmadiyah memberi kesaksian, tentang bagaimana kekerasan itu terjadi dan apa yang dirasakan oleh mereka.










Leave your response!