Bahaya Bakteri Enterobakter Sakazakii – RJP 437
Belum lama ini kita dikejutkan dengan berita tentang penemuan oleh tim dari Institut Pertanian Bogor, IPB bahwa di dalam susu formula bayi terdapat bakteri bernama Enterobakter Sakazakii. Tak urung berita ini menimbulkan kecemasan bagi para orangtua terutama yang mempunyai bayi yang mengkonsumsi susu formula. Apalagi, tidak adanya kejelasan lebih lanjut mengenai merek apa saja dan untuk usia berapa sajakah susu yang mengandung bakteri tersebut. Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, YLKI menyatakan bahwa bakteri tersebut adalah bakteri biasa tetapi dapat menjadi ganas jika kondisi bayi dalam keadaan tidak stabil.
Banyak perempuan merasa berada di persimpangan. Terlebih ada pula pihak yang mengkaitkan susu formula dengan perempuan yang bekerja. Haruskah perempuan berhenti bekerja agar sang bayi tetap mendapat ASI? Bagaimana dengan perempuan yang tidak bisa memberikan ASI karena penyakit atau pengaruh obat? Bagaimana dengan perempuan yang menjadi tulang punggung bagi anak keluarga, termasuk bertanggungjawab bagi masa depan bayi? Haruskah ada yang dikorbankan? Mengutip pertanyaan dari Menteri Kesehatan Fadilah Supari, apakah penelitian tersebut benar-benar murni untuk kepentingan konsumen ataukah kepentingan satu pihak yang mengatasnamakan konsumen? Sayangnya, juga tidak ada kejelasan akan hal ini.
Tapi setidaknya, saat ini saya akan mengajak Anda untuk mengetahui bagaimana tanggapan para orangtua atas penemuan tersebut dan apa yang mestinya perempuan para ibu lakukan agar tidak ada yang harus dikorbankan dari sebuah pilihan. Berikut jurnalis Radio Jurnal Perempuan Dea Pranathania melaporkan hasil liputannya untuk Anda.










Leave your response!