Cerita Tentang Penjual Jamu – RJP 436
Jamu gendong mempunyai sejarah yang cukup panjang di Indonesia, sebagai negara yang punya tumbuhan obat terlengkap nomor dua di dunia. Berabad-abad lalu, obat tradisional yang dibuat dari akar, daun, maupun umbi-umbian tumbuhan ini muncul pertamakali dalam tradisi keraton di Jawa. Selanjutnya jamu juga diajarkan ke masyarakat dan dipasarkan dengan cara dipikul oleh laki-laki dan digendong oleh perempuan.
Belakangan, jamu pikulan kalah pamor dibandingkan dengan jamu gendongan. Kini, di ibukota, setiap hari para perempuan penjual jamu gendong ini lalu-lalang di tengah keramaian kota. Seakan-akan menantang zaman, kebanyakan mereka tetap berkain jarit dan berkebaya dalam menjual jamunya. Jumlah mereka tidak sedikit, namun nasib tidak berubah banyak. Sementara di bagian lain kota Jakarta, ada juga bakul jamu kelas pengusaha yang tak perlu lagi lalu lalang di jalanan, tak perlu berkain dan berkebaya. Mereka kini hanya perlu menghitung untung dari tiap bungkus jamu yang dijualnya hingga ke luar negeri.
Mengapa nasib Suyem sangat jauh berbeda dengan penjual jamu kelas pengusaha? Jurnalis Radio Jurnal Perempuan Dewi Setyarini mengajak Anda untuk melihat dari dekat kehidupan Suyem yang meracik jamu dan menjualnya sendiri.










Leave your response!